DRAMA PEPESAN MORAL

(Drama Satu Babak dalam Penglepasan Siswa Kelas VI SD Muhammadiyah Pekuncen Banyumas Jateng)
SAMBEL BUAT SANG RATU
Oleh Hamidin Krazan
ADEGAN I
DI sebuah ruangan terbuka tampak JURU WORO 1 sedang mengetik (menggunakan mesin ketik) di atas meja. Pada ketikan pertama ada kesalahan, sehingga mukanya cemberut, tampak kesal lalu tangannya mencabut kertas HVS dari mesin ketik. Sambil mengumpat tanpa bersuara jemarinya meremas kertas hingga membentuk bulatan sebesar bola pimpong. Bola kertas itu dilempar ke arah kirinya. Tanpa disadarinya bola kertas itu mengenai jidat JURU WORO 2 yang baru saja masuk ke panggung.
JURU WORO 2 menghindar, bergaya seperti pendekar menangkis serangan lawan dengan jurus-jurus aneh dan lucu ( gaya pantomim). Begitu bola kertas itu dibuka ternyata ada tulisan lalu dibacanya secara lantang
DRAMA SATU BABAK BERJUDUL: SAMBEL BUAT SANG RATU
(Disambung dengan celoteh)
LOH, EMANG RATU BISA NYAMBEL? EH SALAH DIALOG. MAKSUD SAYA, APA BENER RATU GEMAR MAKAN PAKE SAMBEL?  JANGAN-JANGAN SUKA LALAPAN JUGA YA? ADA PETE, JENGKOL. WAH SERBA SUMRAH. PAKE DAUN KATES MENTAH, DAUN KOBIS MENTAH. DAUN KACANG MENTAH…. HUAAAAH…. KAYONG NGGRAGAS YAH…
WAH KALO BEGITU, SETIAP SANG RATU BERTITAH, PASTI SEISI RUANGAN YANG MEWAH INI JADI BAU SENGAAAR… BAU JENGKOL DOOOONG…
JURU WORO 1
JURU WORO 1 Kembali memasukkan kertas HVS ke dalam mesin ketik dan kembali mengetik. Terdengar suara mesin ketik. (Tek tek tek tek sreeet…)
JURU WORO 2
JURU WORO 2 Menirukan bunyi musin ketik dengan tarian ala Michel Jackson, gaya terpatah-patah dan gaya lucu lainnya.
JURU WORO 1 & 2
JURU WORO 1 Membaca tulisan hasil ketikan, tapi ada yang salah, lalu menarik kertas dan meremas-remas lagi hingga membentuk bulatan bola, dilemparnya lagi hingga mengenai kepala JURU WORO 2, Tapi JURU WORO 2 Sigap berdiri dan bergaya seperti pemain bulu tangkis menerima serven. Sehingga kedu pemain bergaya sepasang pemain bulu tangkis, berganti bermain pingpon, saling smash. JURU WORO 1 mensmash sehingga seolah-olah bolanya mengenai kening JURU WORO 2. JURU WORO 2 terjungkal hingga terlentang. JURU WORO 2 mengambil kertas itu dan kembali membaca tulisan yang ada di dalamnya.
BAPAK KEPALA SEKOLAH, PARA BAPAK DAN IBU GURU, BAPAK, IBU TAMU UNDANGAN, TEMAN-TEMAN DAN PARA PEDAGANG YANG BERBAHAGIA. (EH, BTW LAGI PADA BAHAGIA NGGAK SIH? NAH KALO HADIRIN ADA YANG BORING, URING-URINGAN DAN INGIN TERHIBUR , MAKANYA TONTON SANDIWARA INI DAN JANGAN LUPA NGASIH SAWERAN YA….
SANDIWARA  INI DIDUKUNG OLEH PARA PELAKON:
RATU    Diperankan oleh:
PATIH                           Diperankan oleh:
ALGOJO                    Diperankan oleh:
PENASEHAT                Diperankan oleh:
JURU WORO 1         Diperankan oleh: ANAKE PAK… (sebut nama ayahnya)
JURU WORO 2         Diperankan oleh: ANAKE BU… (sebut nama ibunya)
PELUKIS 1                Diperankan oleh:
PELUKIS 2                Diperankan oleh:
PELUKIS 3                Diperankan oleh:
JURU WORO 1 & 2
JURU WORO 1 Kembali memasukkan kertas HVS ke dalam mesin ketik dan kembali mengetik. JURU WORO 2 berusaha melihat isi tulisan yang diketiknya, JURU WORO 1 selalu menghalangi usaha yang dilakukan JURU WORO 2, sehingga selesai mengetik, kertas diambil dan dilipat menjadi ‘dara-daraan’. Merpati mainan)
JURU WORO 1
KAMU MAU TAHU ISI TULISAN INI?
JURU WORO 2
O, JELAS DONG. SAYA HARUS TAHU. KALO TIDAK, BAGAIMANA RAKYAT DI NEGERI DABLONGAN INI BISA TAHU INFORMASI TERKINI DARI SANG RATU?
JURU WORO 1
BAGUS, BAGUS. MEMANG TUGAS KITA SEBAGAI JURU WORO HARUS SELALU MEMBERIKAN INFORMASI YANG AKURAT, TAJAM DAN TERPERCAYA.
JURU WORO 2
MAKANYA CEPETAN HASIL KETIKAN KAMU KASIH KE SAYA, BIAR SAYA BACAKAN DI HADAPAN RAKYAT …
(JURU WORO 1 memasukan kertas pengumuman yang dia ketik ke dalam saku, JURU WORO 2 tak melihatnya. Kemudian JURU WORO 2 mengeluarkan kertas lain  dan  melemparkan kertas ‘dara-daraan’ itu ke luar panggung)
JURU WORO 1
AYO TANGKAAAAP…. (Tertawa terbahak sambil meninggalkan panggung)
(JURU WORO 2 berlari mengejar ‘dara-daraan’ sampai ke luar panggung)
ADEGAN II
RATU DABLONGANINGRUM dengan memakai CADAR dan bertirai dimukanya (mukanya terlihat transparan , mirip cadar Cleopatra, ceileee), .masuki ruangan (panggung) dikawal oleh PATIH, ALGOJO dan PENASEHAT RATU.
PATIH dan ALGOJO menyediakan Kursi Singgasana, kemudian RATU duduk. PATIH dan PENASEHAT berdiri di sisi kanan dan kiri sang RATU, sedangkan ALGOJO berdiri di depan pintu sambil menghunus Pedang.
RATU
PATIH APAKAH RENCANA RATU BISA DIJALANKAN SECEPATNYA?
PATIH
AMPUN KANJENG RATU, APAKAH SUDAH DIPERTIMBANGKAN SECARA MATANG DAN SEKSAMA DALAM TEMPO YANG SESINGKAT INI?
RATU
TAMPAKNYA ENGKAU MERAGUKAN KEPUTUSAN RATU? BAGAIMANA MENURUTMU WAHAI SAUDARA PENASEHAT?
PENASEHAT
MAAF BERIBU AMPUN KANJENG RATU. SEBENARNYA KEINGINAN KANJENG RATU UNTUK MEMANGGIL PARA SENIMAN LUKIS MERUPAKAN BERITA YANG MENYENANGKAN BAGI PARA SENIMAN, KHUSUSNYA PARA PELUKIS.
PATIH
MAAF PENASEHAT, SAYA MEMOTONG PEMBICARAAN. MEMANG INI KABAR MENYENANGKAN BAGI MEREKA, TAPI BAGAIMANA NANTI DENGAN HASIL LUKISAN YANG DIABADIKAN PARA PELUKIS TERHADAP RATU KITA. SEKALI LAGI HAMBA MOHON AMPUN.
RATU
PATIH DAN PENASEHATKU. KEPUTUSAN SUDAH BULAT. JUSTRU RATU AKAN MENJADI TAHU KUALITAS PARA SENIMAN DI NEGERI DABLONGAN INI, SETELAH MELIHAT HASIL KARYA MEREKA.
PATIH
JIKA ITU YANG KANJENG RATU INGINKAN, HAMBA SIAP MENJALANKAN TUGAS.
RATU, PATIH, PENASEHAT dan ALGOJO Meninggalkan ruang pertemuan.
ADEGAN III
JURU WORO 2 berlari sambil (seperti mengejar dara-daraan) hingga tertangkap. Datang PATIH dan ALGOJO, lalu PATIH menyuruh JURU WORO 2 untuk mengumumkan sayembara yang diadakan Sang RATU.
PATIH
JURU WORO… SUDAH KAU SIAPKAN PENGUMUMAN SAYEMBARA YANG DIADAKAN KANJENG RATU?
ALGOJO
CEPAT… AWAS KALO KAMU BILANG BELUM SIAP, NIH LIHAT PEDANGKU SUDAH LAMA TAK MENCICIPI LEHER MAKHLUK BERNYAWA….
JURU WORO 2
EMANG SAYA AYAM POTONG….
ALGOJO
CEPETAN… PAKAI BERCANDA LAGI…
JURU WORO 2
YA IYA… INI SURATNYA BARU SAYA TERIMA DARI JURU WORO 1
PATIH
BAGUS. KALO BEGITU CEPAT BACAKAN…
JURU WORO 2
(membuka lipatan kertas berbentuk dara-daraan, lalu terkejut melihat isi tulisan yang ada di dalamnya, dia tak berani membaca, gemetar dan gerogi bahkan takut membacanya)
ALGOJO
KOK DIAM SAJA? KAN SANG PATIH MENYURUHMU AGAR MEMBACA PENGUMUMAN DARI KANJENG RATU?
JURU WORO 2
MAAF KANJENG PATIH… INI BUKAN SAYA YANG BIKIN. TAPI YANG MENGETIK JURU WORO SATU, MAAF…
PATIH
CEPAT BACAKAN SAJA. TINGGAL BACA KOK SUSAH AMAT SIH…
JURU WORO 2
KANJENG RATU MATANE PICEK, SANG PATIH PECICILAN, ALGOJO GALAK….
PATIH dan ALGOJO marah setelah isi pengumuman yang dibuat JURU WORO 1 dibacakan JURU WORO 2. Lalu datang JURU WORO 1 menghadap.
JURU WORO 1
MAAF, BERIBU AMPUN SANG PATIH… SAYA MENGHATURKAN SURAT PENGUMUMAN SAYEMBARA YANG TUAN PERINTAHKAN. INI SURATNYA.
PATIH
CEPAT BACAKAN DAN SEBARKAN KE SELURUH PELOSOK NEGERI DABLONGAN..
JURU WORO 1
HAMBA SIAP MELAKSANAKAN…
KABAR GEMBIRA KABAR GEMBIRA
BAGI PARA SENIMAN LUKIS DI NEGERI DABLONGAN. BAGI PELUKIS YANG BISA MELUKIS WAJAH KANJENG RATU DABLONGANINGRUM DENGAN BIJAK DAN BENAR AKAN MENDAPAT IMBALAN UANG DAN NAIK HAJI KE MEKKAH BILA MAMPU….
SEKALI LAGI SAYA BACAKAN…. PENGUMUMAN DAN KESEMPATAN BERKARIR SEBAGAI SENIMAN LUKIS…
DIBERITAKAN… BAGI PARA SENIMAN LUKIS DI NEGERI DABLONGAN. BAGI PELUKIS YANG BISA MELUKIS WAJAH KANJENG RATU DABLONGANINGRUM DENGAN BIJAK DAN BENAR AKAN MENDAPAT IMBALAN UANG DAN NAIK HAJI KE MEKKAH BILA MAMPU….
(Setelah dibacakan, PATIH dan ALGOJO pergi, JURU WORO 2 kesal sama JURU WORO 1, mereka saling ejek dan JURU WORO 1 merasa puas setelah ngerjain temannya)
ADEGAN III
ALKISAH, Ratu Dablonganningrum adalah sosok Ratu yang berwibawa, cantik, cerdik dan tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan rakyatnya bahkan para punggawa keraton. Hanya saja, Sang Ratu memiliki satu cacat sejak lahir. Yakni buta mata kiri. Nah, pada kesempatan ini, Ratu Dablonganingrum mengundang kepada para pelukis untuk melukis wajah dirinya di atas kanvas. Bagaimanakah hasil lukisan yang dihasilkan oleh para seniman di negeri Dablongan ini? Mari kita ikuti lanjutan kisahnya
RATU, PATIH, ALGOJO, PENASEHAT dan JURU WORO 1 & 2 sudah berada di atas panggung. Mereka Menanti Hasil lukisan para pelukis yang ikut sayembara.
PELUKIS 1
Datang seorang pelukis 1 lalu menyerahkan hasil lukisan kepada RATU dengan berharap menerima hadiah.
PATIH
PATIH menerima luksian dari pelukis 1. Lukisan itu dibungklus seperti kado. Patih membukanya setelah minta ijin kepada RATU. Setelah dibuka, PATIH menyerahkan kepada RATU.
RATU
RATU mengamat-amati lukisan hanya sebentar. RATU lalu bertitah kepada ALGOJO agar Pelukis 1 dijebloskan kepenjara.
PELUKIS 1
AMPUN KANJENG RATU, HAMBA SUDAH MELUKIS KANJENG RATU DENGAN SEBAIK MUNGKIN. KENAPA HAMBA MALAH DIJEBLOSKAN KE DALAM PENJARA?
ALGOJO
SUDAH JANGAN BANYAK ALASAN. MASUK!
PELUKIS 2
ASSALAMUALAIKUM…
PENASEHAT DKK
WAALAIKUM SALAM…
PELUKIS 2
HAMBA PELUKIS DARI KADIPATEN CIWUNUT, MENGHADAP GUSTI RATU
PANASEHAT
APAKAH KAU DATANG BERSERTA HASIL KARYA LUKISMU?
PELUKIS 2
BETUL, TIDAK SALAH. SALAH SATU DAPAT SEMBILAN. SALAH SEMUA TANDA TAK BELAJAR…
PENASEHAT
HA HA HA… KAU PELUKIS YANG HUMORIS YA….
PATIH
CEPAT KISANAK SERAHKAN HASIL KARYA LUKISMU..
PELUKIS 2
BAIK GUSTI PATIH…. (Pelukis 2 menyerahkan sebuah lukisan)
PATIH
Mengamati lukisan dan termenung….lalu menyerahkan lukisan kepada GUSTI RATU
RATU
(Mengamati lukisan. Kesal). LEMPARKAN PELUKIS INI KE PENJARA BAWAH TANAH. SAMPAI DIA MENYADARI KESALAHANNYA.
ALGOJO
SENDIKO DAWUH KANJENG RATU…. (Algojo menyeret Pelukis 2 ke luar panggung)
PELUKIS 2
CILAKA…CILAKA… APA SALAH HAMBA… LUKISAN HAMBA TERCANTIK SEDUNIA…. LUKISAN LEONRDO DA VINCI SAJA BISA KALAH CANTIK, KENAPA MALAH MEMBAWA PETAKA…
PATIH
JURU WORO…. JURU WORO…..
JURU WORO 1 & 2
SIAP BOS, EH SALAH DIALOG… SENDIKO DAWUH GUSTI PATIH (kompak)
PATIH
APAKAH MASIH ADA PELUKIS YANG BERANI MENGIKUTI SAYEMBARA INI?
JURU WORO 1
MASIH ADA GUSTI…
PATIH
MANA… SURUIH DIA MENGHADAP DAN BAWA HASIL LUKISANNYA
JURU WORO 2
MAAF, GUSTI PATIH… TADI PELUKISNYA SEDANG NGARIT DULU…(CARI RUMPUT)
PELUKIS 3
HAMBA MENGHADAP GUSTI PATIH…SAYA SIAP MENDAPAT HUKUMAN JIKA HASIL LUKISAN SAYA TENTANG WAJAH RATU MEMBUAT BAGINDA RATU TIDAK BERKENAN. SEBALIKNYA JIKA RATU BERKENAN SAYA PUN TIDAK INGIN MENERIMA HADIAH YANG TELAH DISEDIAKAN RATU….KECUALI SATU PERMINTAAN
PATIH
KATAKAN, WAHAI PELUKIS…APA PERMINTAANMU. ASAL LUKSIANMU DISUKAI GUSTI RATU.
PELUKIS 3
MAKA DARI ITU SAYA SERAHKAN LUKISAN INI. SILAKAN DIAPRESIASI DULU…
PATIH
(Patih menerima lukisan dan melihatnya.)
LUKISANMU KECIL. TAPI… SILAKAN GUSTI RATU MENILAI SENDIRI…
RATU
(Menerima lukisan kecil…)
WOOUW…… PATIH.. TANYAKAN APA PERMINTAAN DIA…
PATIH
SENDIKO KANJENG RATU.
(Mendekati pelukis 3) APA PERMINTAAN KAMU WAHAI PELUKIS? SEKIRANYA BAGINDA RATU MENYUKI LUKISAN ANDA…
PELUKIS 3
SAYA MOHON… BEBASKAN DUA SAUDARAKU YANG DIPENJARA AKIBAT HASIL KARYA MEREKA YANG KURANG BIJAKSANA….ITU…
PATIH
BAIKLAH PERMOHONAN ANDA AKAN KAMI AJUKAN KE GUSTI RATU…
NARASI:
BUKAN hadiah yang didapat, oleh Pelukis 1 , sebaliknya yang diperoleh pil pahit, ratu berang besar karena melukis wajahnya seperti apa adanya. Sama halnya dengan pelukis kedua yang mengira akan menerima pujian lantaran melukis ratu dengan kedua mata yang normal alias tidak buta. Maka pelukis ketigalah yang memenuhi keinginan ratu. Dia melukis ratu mengenakan kacamata hitam. Sehingga tidak serta merta melukis mata sang ratu yang buta itu… Ibarat sambal, jika dioleskan ke mata pasti pedas dan sakit rasanya, tapi jika dihidangkan bersama semangkok baso.. maka siapapun menyukainya. Termasuk Sang RATU di negeri dablongan ini RATU DABLONGANINGRUM.
(Dimodif dari cerita rakyat dari Cina)
TAMAT

AKU TERKINI

Udara membeku

setiap helaan nafas pagi

terasa memasukkan split

kedalam mulut botol

tersendat sepanjang leher.

Serba salah tingkah sejenak usai subuh. Menyimak berita selalu menggoreskan rasa nyeri seperti itu. Meluangkan waktu barang 30 menit di depan pesawat televisi dimaksudkan agar menuai inspirasi melalui topik kabar terkini pagi. Namun nyatanya? Sederet berita yang tersajikan justru kian menggumpalkan udara pagi.

Setidaknya aku masih bisa merasakan segala derita di layar kaca. Jika itu mewakili sebagian fakta sekitar kita. Artinya, ganjalan dalam helaan nafas pagi tak semata-mata kurasakan sorangan. Dengan begitu, segala daya dan kekuatan baru tak serta merta kusandarkan pada apa yang kulihat, kudengar dan kurasakan semata. Sebab, mata, telinga dan jiwa selalu saja tersarang dalam cakrawala gulita.

Menghadapi suasana demikian, diperlukan langkah kreatif. Memadukan kebiasaan umum dengan ketidakbiasaan yang kudapatkan dari sekitarku lalu kujadikan satu langkah alternatif agar mendapatkan sedikit sisa-sisa hawa segar agar membugar dalam langkah awal.

Usai Subuh membaca Kalam Illahi itu biasa, usai subuh menyeduh kopi itu biasa, usai subuh memanaskan mesin motor, mengisi bensin di POM itu juga biasa aku lakukan, termasuk menyimak berita pagi di beberapa chanel telivisi swasta baik nasional maupun loka l. Lantas apa yang tidak biasa kulakukan pada dua pagi belakangan ini?

Ada sedikit persoalan yang tengah menenggelamkan aku dalam kegelapan dunia maya. Lantaran N-73 ku tengah kolep. Kata Sismick, tukang service Hp, agar HP-ku kembali normal dan dapat berfungsi sesuai semestinya. Dimana  bisa menemani dalam pelayaran dunia maya serta menjalin komunikasi efektif dan efisien dengan orang-orang tercinta serta yang menyayangiku. Tapi ya itu, aku harus mengeluarkan sejumlah dana untuk mengganti dua piranti krusial yang harganya cukup mahal. Persoalannya, bukan bisa atau tidaknya aku mengusahakan dana untuk membayar service yang nilainya bisa mendapatkan HP merek cina model terbaru. tetapi bagaimana dengan data yang ada di Hpku itu? Lagian belum tersave di kartu memori.

Kemarin lusa, sekitar jam 05 Pagi, aku meluncur ke Pasar tujuannya untuk membeli kebutuhan kecil yang krusial, seperti sabun mandi, detergen dan pewangi cucian, tapi tak kubayangkan sebelumnya, ternyata di tepi jalan menuju pasar, aku melihat di sebuah ruko ada layanan warnet yang masih atau sudah buka. Tentunya warnet ini buka 24 jam non-stop. Ahay, ini landasan cocok buat aku membaringkan kebekuan pagi sebelum aku melakukan aktivitas sehari-hari.

Mengapa warnet yang dini hari masih buka itu menjadi dewi fortuna buatku? Karena terkait aku yang sehari-hari sebagai pedagang keliling, sebenarnya bukan hal susah untuk menemukan dan mampir di warnet di sepanjang siang hari. Tapi tentu saja itu tak cocok sama sekali buat aku terkait dengan pekerjaan yang membutuhkan sepakterjang maksimal.

Sepanjang siang memang waktuku khusus kusajikan untuk melayani para raja-raja kecil yang membutuhkan barang sepele tetapi melengkapi selera besar mereka. Jika aku lengah sedetik saja, lewatlah kesempatan dalam upaya meraih untung sembari memuaskan mereka. Ya meski mereka raja namun aku bukan hamba mereka. Meski mereka membutuhkan hal sepele, tetapi sangat penting aku layani. Jika hal sepele itu berarti bagi mereka, tentu aku dapat memposisikan diriku sebagai orang yang pantas dirindukan. Lantaran kehadiranku memang menjadi bagian dari usaha melengkapi kebutuhannya.

Lantaran itulah, kehadiran warnet 24 jam, sungguh membantuku dalam menjadikan diri ini benar-benar menghirup udara terasa segar, meski kebekuan hidup terus berdesir sejak pagi sepanjang siang hingga menyesak di kelebatan malam. Yah, sembari menunggu N-73ku pulih tentunya…

Kau tahu apa yang membuat udara membeku dalam hidupku itu? Tak usah dijawab, karena mungkin duniaku sedikit berbeda… Mojosari, Mei 2011

Kerinduan Pak Guru

Kerinduan akan kebersamaan kita kadang menyapa. Semoga di awal tahun ini bisa mengulang sepenggal episode masa silam. (Kangen baca puisi he he ). Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. 04.40. ….. SALAH satu Sms yang kuterima, selagi aku masih tertidur. Pengirimnya, seorang Kepala Sekolah SD, juga guru teaterku. Aku tak balas sms itu hingga sekaran. Aku hanya mengumpulkan sejumlah puisiku yang berserak di lembar maya. Di Fb, blog, diary, folder pribadi di hp, catatan di hp dan yg pernah aku kirim ke beberapa teman via sms. Pekan lalu hpku ngebleng. Semua catatan hilang. Termasuk no telp seseorang yg pernah kukirimi puisi juga terhapus. Aku akan minta dikirim balik puisiku, tapi entah harus tanya siapa. Aku ingin bawa sepuluh puisi ke rumah Pak Guru, tapi yang satu belum kutemukan jejaknya. Kecuali dia mengabarkan, kalau puisiku telah dijadikan opening cerpen di salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpennya, terbit. Biarlah satu puisi jadi bahan rindu. (mojosari, peb. 2011)