Bocah Banyumas Ramaikan Hari Sastra Tegalan

HAMIDIN Krazan pemilik hobi menulis puisi dan cerita anak yang asli kelahiran Banyumas turut serta meramaikan peringatan Hari Sastra Tegalan ke- 2 yang diperingati pada Kamis (24/11), di  Lembah Agro, Desa Karangjambu, Kecamatan Balapulang, atau tepatnya di kawasan menuju Obyek Wisata Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal Jawa Tengah.

Acara tersebut selain menampilkan pembacaan puisi tegalan yang dibaca dan ditulis para penyairnya juga diramaikan dengan demo lukis oleh tiga pelukis dari Brebes dan Kota Slawi, Hasan Bisri (Brebes), Diah Setyawati dan Buntoro (SLawi). Demikian Ketua Penyelenggara Ipuk NM Nur menegaskan di tempat tinggalnya, Desa Mejasem Timur, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal.
Menurut dia, kesediaan mereka terlibat dalam perhelatan tersebut karena mereka memandang penting budaya lokal dijunjung tinggi mengingat sudah saatnya lokal jenius menjadi ikon di daerahnya sendiri.
“Mereka antusias mengikuti demo lukis bertepatan dengan Hari Sastra Tegalan lantaran sastra Tegalan untuk belakangan ini sudah semakin dikenal dan oleh karenanya, menurut mereka, harus terus ditindaklanjuti, sampai benar-benar budaya Tegalan menjadi ikon,” tutur Ipuk.
Lebih jauh dia mengatakan, pada acara tersebut, tiap-tiap penyair diwajibkan membuat karyanya sendiri dalam bahasa tegalan. Hal itu mengingat nantinya akan dijadikan antologi puisi Tegalan. Sedang gambar lukisan yang dihasilkan oleh para pelukis akan dijadikan cover buku dan selebihnya sebagai ilustrasi di dalam buku antologi.
“Lewat perayaan Hari Sastra Tegalan, kami ingin benar-benar melibatkan semua kekuatan para seniman yang melibatkan pula para pelukis Slawi dan Kabupaten Brebes,” terang Ipuk.
Ipuk menambahkan, dalam acara tersebut, pihaknya tidak hanya menampilkan para seniman generasi muda saja, tapi akan mengusung para seniman tua seperti Hadi Utomo, Sunyoto, dan Mantan KEtua Wakil DPRD Kabupaten Tegal, Enyang Kanjeng Mashuru Dahlan.
“Kami memang lebih mengusung anak-anak generasi muda, namun tak juga meninggalkan mereka yang sudah berusia lanjut. Jadi gerakan ini imbang, ada generasi tua juga anak-anak muda.”
Acara yang bakal digelar dari pagi hingga sore ini, para seniman 4 kota yang siap tampil diantaranya; Dwi Ery Santoso, H. Tambari Gustam, Dinhaz Yussac, Endhy Kepanjen, Komponis Tegalan Dhimas Riyanto, dan Jayeng R. Jaladara (Tegal), dari Kota Slawi diantaranya Apito Lahire, Mi’roj Adhika AS, Abu Ma’mur Mf, Carik Penyair Rochmat Sapingi, Hadi Utomo, Eyang Kanjeng Mashuri Dahlan, Sunyoto, Diah Setyawati, Linda Manise, Buntoro, Ipuk NM Nur, Apas Kafasi, Zacky Paila, Penyair Tempe Dries Anganten, Mas’udi ACh Jeparan, dan Yaskur Parondina. Dari Kabupaten Brebes H. Hasan Bisri, Estu Marhento dan Tamid, sedang dari Ajibarang – Banyumas Hamidin Krazan.

Mengenang Rendra: Berebut Sepotong Bulu Meraknya

SIAPAPUN yang membaca sajak karya Rendra. Aku suka. Apakah dia pembaca terbaik versi juri lomba ataupun pembacaan ala pejabat, bahkan model pembacaan sajak yang kerap ditampilkan dalam resepsi agustusan di kampung minim kreativitas pun, aku tetap suka menyimaknya. Sebab aku nyaman setiap menikmati rangkaian kata dalam sajak-sajak Rendra. Meski banyak yang aku tak pahami maknanya. Tetapi rasaku tetap bisa luruh dibuatnya. Seperti ketika aku mendengarkan alunan lagu artis manca negara. Tak paham arti syairnya tetapi rasaku hanyut dalam darah maya. Yakni aliran daya hidup yang sulit dikategorikan sebagai rumusan: suka, cinta, rindu ataulah idea bahkan ngayawara (khayalan liar, Jawa).

Pada malam kedua acara Mengenang Rendra, Selasa, (11/8) aku datang di sepertiga acara. Meski aku tak melihat para penampil pertama dan kedua. Toh, saat aku naik becak menuju lokasi acara, derum batinku sudah menyuarakan petikan-petikan sajak yang berkelebatan dalam pikiranku. Bahkan kadang bergumam dengan petikan sajak seperti orang keyungyun. Padahal aku bukan siapa-siapanya.

“Kesadaran adalah matahari, adalah matahari. Keberanian menjadi cakrawala…” grengengan lagu Kantata Takwa dari sajak Rendra. Ingatanku kembali pada saat aku masih bekerja sebagai buruh di Jakarta. Usai aku menyelesaikan pekerjaan, sebagai tukang pasang kancing atau timang sabuk anak-anak di sebuah konveksi gesper Jl Kebon kacang 50, Tanah Abang Jakarta Pusat. Hanya aku di antara para kuli konveksi yang punya tiket untuk menonton konser Kantata Takwa dan Rendra Baca Puisi di Istora Senayan Jakarta.

Tiket itu aku dapatkan dari bonus pembelian kaset album Kantata Takwa. Dan aku melihat Rendra membaca puisi dari jarak yang begitu lautnya. Aku seperti di pantai, sedangkan sosok Rendra seperti Merak dengan sedikit gerak tapi lebar daya kibas pikatnya. Atau seperti pramusaji yang elegan di sebuah restoran mewah di kapal pesiar di pantai lepas. Megahnya. Rambutnya yang berombak membyak-membyak ketika kata-kata dibacakan dengan gaya irama disko. Mukanya mencreng lebar. Dengan baju warna cangkang telur bebek, ujung lengan panjang dilipat dua lipat saja. Jauhpun aku memastikan kegagahannya diakui semua yang menyaksikan dia.  Malam itu, sinar lampu laser menebar kekaguman. Andai aku bisa berkarya sehebat dia?

Becak berhenti di ujung gang depan Gedung Wanita atau gedung Kesenian Kota Tegal. Aku melompat dan berjalan kaki beberapa langkah, hingga duduk lesehan bergabung dengan para pengunjung yang datang sejak awal acara.

Malam itu, sajak Khotbah dibacakan oleh dramawan Yono Daryono. Sajak Khotbah termasuk yang jarang sekali dibacakan khalayak. Namun, Yono Daryono berani membacakannya.
Tentu saja punya alasan tersendiri, Yono Daryono membaca sajak Khotbah. Sekalipun panjang, tetapi kisah dalam sajak Khotbah  yang termuat di buku Blues untuk Bonnie itu mempunyai babakan dramaturgi yang mencekam. Sebagai dramawan tentu saja, puisi
yang kuat mengandung muatan naratif dan dramatik itu, menarik hatinya untuk membacakannya.
Malam itu Yono membacanya dengan garang, lantang, menghujani hadirin yang duduk terpaku dalam balutan angin malam yang dingin.

“Fantastis! Di suatu Minggu siang yang panas/di gereja yang penuh orangnya/seorang padri muda berdiri di mimbar/wajahnya molek dan suci/matanya manis seperti mata kelinci/dan ia mengangkat kedua tangannya/yang bersih halus bagai leli, lalu berkata:/Sekarang kita bubaran/khotbah tidak ada//”

Bait pertama itu langsung menyedot perhatian hadirin. Lewat vokalnya yang prima, pimpinan Teater RSPD Tegal itu terus menggelegar tanpa kehilangan artikulasi pengucapan. Ketegangan yang dibangun dari lirik puisi tak kenal ampun diberi jeda sedikitpun olehnya. Alhasil, berpuluh pasang mata seakan terhipnotis.
Ketua DKT, Nurngudiono rupanya memberi ruang cukup lebar pada para seniman baca puisi. “Acara mengenang Rendra selama tiga hari ini melibatkan seniman Jateng, Jatim dan Jakarta. Warga sekitar gedung kesenian juga kami ajak untuk bertahlilan,” jelas Nurngudiono.

Selain Yono, pada Mengenang Rendra malam kedua tampil juga HM Enthieh Mudakir berduet Dhenok Harti saling membaca Rick sing Corona, Slamet Ambari baca Titipan, Abdullah Sungkar baca Sajak Sebatang Lisong, Firman Hadi baca Doa di Jakarta, Slamet Bramanthi baca Nyanyian Angsa, Monti membaca Sajak Bulan Mei, juga tampil, Rofii Dimyati, Nana Eres, Abidin Abror, Darno, Ari Jembrong, kemudian Irwansyah, Uki Bayu Sejati dari Komunitas TIM Jakarta, Authar Abdillah dari Jawa Timur, serta reportoar musik Joshua Igo BG yang menampilkan instrumen piano ‘Ballada Rendra I dan II’ serta biduanita Rini Crysan.

copy-of-s5030445

Sajak Tegalan

Lain dari kebanyakan, penyair tegalan Dwi Ery Santoso menggedor 3 buah puisi karyanya dalam dua bahasa; Tegalan dan bahasa Indonesia. Tiga buah puisi berjudul Lengang, Sepotong Jalan (bahasa Indonesia), dan satu puisinya yang ditulis dalam bahasa Tegalan berjudul Rumah Sakit.

Menurut dia, proses penciptaan 3 sajak itu didasari dari rasa prihatin mendalam atas berita kematian Rendra yang terkabarkan lewat sebuah pesan singkat dari sahabat dari Jakarta. Ketika mendapat SMS itu, ia merasa seluruh tulang-belulangnya serasa tercerabuti dan membuat sekujur tubuhnya lemas seperti ada yang hilang. Dari situlah maka lahirlah sepotong sajak Lengang. “Seperti ada yang hilang ketika saya mendapat sms tentang kematian seorang Rendra,” katanya.

Pada proses penciptaan puisi Sepotong Jalan, ia mengisahkah tentang kesaksian atas kepasrahan Rendra ketika memulai bersujud kepada sang khaliq atas kebesaran Agama Islam yang dia anut hingga namanya pun rela diganti menjadi Wahyu Soeleman Rendra. “Keperpindahan Rendra dari pemeluk Khatolik taat menjadi penganut Agama Islam, menjadi sebuah kecerdasan rokhani menuju ke Khaliq yang sebenarnya, karena baginya Agama Islam itulah agama yang diridhoi Allah,” tandas Ery.

Pada sajak Rumah Sakit, Ery dengan tegas mengisahkan tentang pandangan Rendra terhadap perkara sakit atau tidak sakit, bukanlah milik Rendra melainkan semua itu milik Allah semata. Nilai kepasrahan total yang dimiliki Rendra adalah sebuah kesaksian Ery saat menilai Rendra terhadap Allah yang dia yakini sebagai Tuhan Seru Sekalian alam. “Bagi Rendra, sakit tidak sakit adalah milik Allah. Aku tidak sakit. Hanya organ-organ tubuhku yang telah tua, maka ketuaan adalah rahmat,” tandas Ery mengutip omongan Rendra saat ajal akan menjemput.

Siapapun mereka, setiap membaca karya Rendra, membawaku pada memori yang tak bisa terbuang. Saat menyaksikan langsung Rendra meski dari jarak kejauhan. Khebatan yang dimiliknya. Seperti merak berkibas dan bulu-bulunya berterbangan. Kini sejak beliau almarhum. Orang -orang seperti berebut mendapatkan sehelai bulu meraknya. Entah sebagai selembar nota untuk menitipkan doa, lalu bulu itu diterbangkan lagi bersama angin, atau disematkan di konde sebagai mahkota pemanis jatidirinya, atau sekedar dijadikan korek kuping (killen) yang sekedar menemani keasyikan dalam kesenggangan, ataujuga sebagai pertanda semacam wing kepangkatan yang disemat di dada penuh bangga, alih-alih dirinya merasa paling menajdi bagian dalam interaksi dengan almarhum. Haruskah aku ikut berebut?

Oleh Hamidin Krazan

Rendra ‘Hidup’ Lagi di Pelataran DKT

Kabag Humas Sekda Kota Tegal, Drs Khaerul Huda sedang membaca Sajak Orang Kepanasan dalam acara Mengenang Rendra di pelataran DKT.

Kabag Humas Sekda Kota Tegal, Drs Khaerul Huda sedang membaca Sajak Orang Kepanasan dalam acara Mengenang Rendra di pelataran DKT.

RASA kehilangan terhadap seseorang yang begitu haru, seringkali melahirkan halusinasi. Penyerupaan yang hadir melalui asosiasi antara pikiran dan imaji, acap mampu menghidupkan kembali sosok yang dirindukan. Sekalipun ‘kehadirannya’ itu sebatas dalam realita kedua yang terwujud dalam karya-karya yang diciptakan. Setidaknya kesan itu mencuat saat menyaksikan para seniman senior Kota Tegal dan para pecinta Rendra tampil pada malam pertama Mengenang Rendra. Acara yang digelar Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT), Jawa Tengah pada Senin (10/8) di halaman Gedung Kesenian itu, boleh dibilang cukup memenuhi hasrat rindu mendalam terhadap sosok WS Rendra dalam fantasi kita.

Apalagi beberapa pembaca puisi dan orator yang tampil pada malam itu, tidak lain para seniman langit Kota Tegal (baca: seniman senior, karena tak seorangpun pemula tampil dalam perhelatan itu) yang pernah berinteraksi langsung dengan WS Rendra baik melalui pertemuan dalam acara pentas maupun diskusi di Bengkel teaternya. Seperti Nuhidayat Poso yang memaparkan kilas balik tentang ‘Benang Merah antara WS Rendra dengan Kota Tegal’. Monologer Eko Tunas dengan gado-gado serba Rendra. Di dalamnya ada pembacaan sejumlah puisi Rendra, penjelasan tentang kekhasan sajak-sajak Rendra, serta penandaan tentang dua warisan budaya bagi Indonesia yang berhasil dilahirkan Si Burung Merak.

Penampil selumnya di antaranya, ada Slamet Ambari dengan monolog bertema Keyungyun, Ketua DKT Nurngudiono beraksi dengan sajak Sebatang Lisong, Hamidah Abdurrachman membaca sajak Makna Sebuah Titipan, Vera Sandrayani menyuarakan sajak Kangen, disambung dengan uyon-uyon Megatruh oleh Ki Barep, Pesinden Nyi Rukyah dan Ki Ragil Suroso melalui tembang Dandanggulo Slendro Pathet Enem, Gunadi Widjaya menyajikan petikan gitar dengan irama menyayat, disambung sajak Kelelawar oleh Jambrong, tak ketinggalan Drs Khaerul Huda, Msi turut mendesiskan hawa protes dengan Sajak Orang Kepanasan.

Dalam monolognya, Slamet Ambari mengibaratkan era ini sebagai jaman keyungyun (merasa kehilangan yang mendalam). Secara ringkas digambarkan melalui monolog Tegalan tentang tragedi keyungyun yang dialami banyak orang dengan latar belakang berlainan. Seperti banyak anggota DPR yang gagal duduk di kursi dewan, tentu keyungyun dengan uang belanja politik selama proses pencalonannya. Beberapa calon walikota yang belum beruntung menjadi orang nomor satu di Kota Tegal pun pantas keyungyun karena modal diobral untuk perolehan jabatan itu tentu menguras simpanan di rekeningnya. Ditegaskan Ambari, di jagat kesenian baik di tingkat universal dan nasional belakangan ini pantas keyungyun. Lantaran kematian sosok seniman dan budayawan secara berurutan. Seperti meninggalnya Michael Jackson ditangisi dunia. Berpulangnya Mbah Surip, kemudian WS Rendra niscaya ditangisi Indonesia.

Haruskah sedih? Ekspresi kesedihan seperti apa yang tepat untuk mengungkapkan untuk mendiang WS Rendra? Padahal alamarhum bukan siapa-siapa kita. Lontaran retoris disampaikan dalam prakata singkat Hamidah Abdurachman sebelum ia membacakan Makna Sebuah Titipan.

“Saya tidak kenal Rendra. Ketemu juga belum pernah,” katanya lugas. Hal itu membuat pakar hukum dari Universitas Pancasakti Kota Tegal ini mengaku sulit untuk memahami keinginan Rendra pada setiap kata dalam sajaknya. Begitu pula bagaimana cara mengekpresikannya secara tepat. Apakah dengan serta merta mengangkat tangan? Tapi melalui intuisi seorang ibu sehingga mampu memahami makna sajaknya. Sehingga ada semacam aliran rasa membuncah dalam sanubarinya. “Ada kesedihan seorang ibu yang ditinggal anaknya. Kesedihan Ken Zuraida sebagai (salah seorang istri) yang ditinggalkan suaminya. Kesedihan seorang yang ditinggalkan sang kekasih,” papar Hamidah.

Acara Mengenang Rendra masih ada dua putaran lagi. Kalau saja pada malam pertama disaksikan banyak pejabat, para anggota dewan, praktisi hukum, konglomerat, tokoh agama dan pendidik se Kota Tegal khususnya, tentu petikan sajak Sajak Orang Kepanasan yang dibacakan Kepala Bagian Humas dan Protokoler Sekda Kota Tegal, Drs Khaerul Huda MSi, lalu dibaca ulang oleh Eko Tunas, boleh jadi akan menggugah permenungan. Bahkan dapat dijadikan penggedor egoisme dan keangkuhan yang ada.

//…karena kami terlantar di jalan/ dan kamu memiliki semua keteduhan …../ karena kami kebanjiran/ dan kamu berpesta di kapal pesiar …../ maka kami tidak menyukaimu// …karena kami arus kali/ dan kamu batu tanpa hati/ maka air akan mengikis batu//

Jasa Rendra

Ya, dari Rendralah, kita mengenal yang namanya poetry reading atau pembacaan puisi. Sepulang belajar seni drama di Amerika Serikat, pada 1961, masyarakat Indonesia hanya mengenal seni deklamasi. Oleh Rendra pula, baca puisi jadi seni pertunjukan yang memikat. Akhirnya pembacaan puisi dikenal masyarakat secara luas.

Maraknya lomba baca puisi yang sering kita jumpai, mau tidak mau adalah atas jasa besar penyair berjuluk ‘Si Burung Merak’ tersebut. “Bila tak ada dia, tak ada lomba baca puisi di Indonesia. Dia berjasa pula memperkenalkan teater modern. Maka jika tak ada Rendra, tak ada Putu Wijaya, tak ada Arifin C Noor, di Tegal tak ada Yono Daryono (dramawan), tak ada tokoh-tokoh seni teater dan puisi,” ujar seniman Eko Tunas dalam orasinya. Jasa kedua, bahwa Rendra senantiasa melakukan riset dalam setiap menggarap karya maupun penggarapan teater. Sehingga dari teater klasik yang dipelajari akhirnya bisa diadaptasi dengan kesenian tradisional yang ada di Jawa khususnya dan Indonesia umumnya. Sejak itulah orang tetaer tidak lagi merasa gengsi ketika disandingkan dengan seperangkat gamelan dalam sajian panggungnya. Alat mudik seperti gong, sharon bukan menjadi hal yang tabu untuk disertakan menjadi bagian sajian teater secara utuh.

Bagi sebagian besar seniman dan masyarakat Indonesia, Rendra–lebih akrab disapa Mas Willy–adalah tokoh besar yang sangat dihormati. Ia bak magnet atau sihir yang membuat orang berbondong-bondong mendekat padanya, ingin menjadi bagian dari hidupnya. Itulah mengapa, acara mengenang Rendra jadi penting bagi mereka yang merasa kehilangan.

Secara berseloroh, Eko Tunas juga menganggap Rendra menjadi trandsetter dari gaya rambut, postur tubuh bahkan cara berpakaian. “Bayangkan jika Rendra awalnya tidak berambut gondrong, jika tubuhnya pendek, kulitnya hitam dekil, apa jadinya wajah para teaterawan di negeri kita,” ujarnya berseloroh.


Rendra dan Tegal

NAMA Rendra bagi kalangan seniman Kota Tegal tak asing lagi. Pada tahun 1950-an ia pernah bolak-balik ke Tegal melihat kiprah komunitas Ikatan Seniman Muda Tegal pimpinan Woerjanto saat aktor teater Sudjai S menyutradarai dan main dalam satu lakon. Seperti diaktakan, Nurhidayat Poso dalam uraian tentang  Benang Merah antara WS Rendra dengan Kota Tegal’. “Konon, katanya, kala itu WS. Rendra mengagumi betul seniman-seniman Tunas terutama kesemsem pada dedengkot teater Sudjai S saat dia main dalam lakon Malam Jahanam karya Motinggo Busye di Gedoeng Tawang Samudra tahun 1960 bersama Parto Tegal.

Dari ketertarikan itu, langsung saja Rendra menawarkan pada mereka untuk bergabung di Bengkel Teater Yogyakarta. Parto Tegal akhirnya suntuk di teater pimpinan Rendra sedang Sudjai S menolak dengan alas an untuk menjaga kelangsung dunia perteateran di Kota Tegal.

Keakraban Rendra dengan para seniman teater di Kota Tegal, menyebakan dia menjuluki Kota Tegal sebagai ‘kota yang tak pernah tidur’, dalam artian Tegal sebagai ‘kota teater’. Hingga beberapa tahun lalu, Rendra kembali menyempatkan diri ke Tegal dalam rangka baca puisi dan melakukan acara diskusi. Termasuk datang di Kabupaten Tegal untuk even pembacaan puisi pada HUT Kemerdekaan, di Pendapa Ki Gede Sebayu Kabupaten Tegal. Tak heran kalau kemudian secara emosional kalangan seniman Tegal serentak menggelar peristiwa budaya begitu mendengar kematian ‘Si Burung Merak’.

Post oleh: Hamidin Krazan

drs-khaerul-huda-1