08.11.09 - 10:59am

Kabag Humas Sekda Kota Tegal, Drs Khaerul Huda sedang membaca Sajak Orang Kepanasan dalam acara Mengenang Rendra di pelataran DKT.
RASA kehilangan terhadap seseorang yang begitu haru, seringkali melahirkan halusinasi. Penyerupaan yang hadir melalui asosiasi antara pikiran dan imaji, acap mampu menghidupkan kembali sosok yang dirindukan. Sekalipun ‘kehadirannya’ itu sebatas dalam realita kedua yang terwujud dalam karya-karya yang diciptakan. Setidaknya kesan itu mencuat saat menyaksikan para seniman senior Kota Tegal dan para pecinta Rendra tampil pada malam pertama Mengenang Rendra. Acara yang digelar Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT), Jawa Tengah pada Senin (10/8) di halaman Gedung Kesenian itu, boleh dibilang cukup memenuhi hasrat rindu mendalam terhadap sosok WS Rendra dalam fantasi kita.
Apalagi beberapa pembaca puisi dan orator yang tampil pada malam itu, tidak lain para seniman langit Kota Tegal (baca: seniman senior, karena tak seorangpun pemula tampil dalam perhelatan itu) yang pernah berinteraksi langsung dengan WS Rendra baik melalui pertemuan dalam acara pentas maupun diskusi di Bengkel teaternya. Seperti Nuhidayat Poso yang memaparkan kilas balik tentang ‘Benang Merah antara WS Rendra dengan Kota Tegal’. Monologer Eko Tunas dengan gado-gado serba Rendra. Di dalamnya ada pembacaan sejumlah puisi Rendra, penjelasan tentang kekhasan sajak-sajak Rendra, serta penandaan tentang dua warisan budaya bagi Indonesia yang berhasil dilahirkan Si Burung Merak.
Penampil selumnya di antaranya, ada Slamet Ambari dengan monolog bertema Keyungyun, Ketua DKT Nurngudiono beraksi dengan sajak Sebatang Lisong, Hamidah Abdurrachman membaca sajak Makna Sebuah Titipan, Vera Sandrayani menyuarakan sajak Kangen, disambung dengan uyon-uyon Megatruh oleh Ki Barep, Pesinden Nyi Rukyah dan Ki Ragil Suroso melalui tembang Dandanggulo Slendro Pathet Enem, Gunadi Widjaya menyajikan petikan gitar dengan irama menyayat, disambung sajak Kelelawar oleh Jambrong, tak ketinggalan Drs Khaerul Huda, Msi turut mendesiskan hawa protes dengan Sajak Orang Kepanasan.
Dalam monolognya, Slamet Ambari mengibaratkan era ini sebagai jaman keyungyun (merasa kehilangan yang mendalam). Secara ringkas digambarkan melalui monolog Tegalan tentang tragedi keyungyun yang dialami banyak orang dengan latar belakang berlainan. Seperti banyak anggota DPR yang gagal duduk di kursi dewan, tentu keyungyun dengan uang belanja politik selama proses pencalonannya. Beberapa calon walikota yang belum beruntung menjadi orang nomor satu di Kota Tegal pun pantas keyungyun karena modal diobral untuk perolehan jabatan itu tentu menguras simpanan di rekeningnya. Ditegaskan Ambari, di jagat kesenian baik di tingkat universal dan nasional belakangan ini pantas keyungyun. Lantaran kematian sosok seniman dan budayawan secara berurutan. Seperti meninggalnya Michael Jackson ditangisi dunia. Berpulangnya Mbah Surip, kemudian WS Rendra niscaya ditangisi Indonesia.
Haruskah sedih? Ekspresi kesedihan seperti apa yang tepat untuk mengungkapkan untuk mendiang WS Rendra? Padahal alamarhum bukan siapa-siapa kita. Lontaran retoris disampaikan dalam prakata singkat Hamidah Abdurachman sebelum ia membacakan Makna Sebuah Titipan.
“Saya tidak kenal Rendra. Ketemu juga belum pernah,” katanya lugas. Hal itu membuat pakar hukum dari Universitas Pancasakti Kota Tegal ini mengaku sulit untuk memahami keinginan Rendra pada setiap kata dalam sajaknya. Begitu pula bagaimana cara mengekpresikannya secara tepat. Apakah dengan serta merta mengangkat tangan? Tapi melalui intuisi seorang ibu sehingga mampu memahami makna sajaknya. Sehingga ada semacam aliran rasa membuncah dalam sanubarinya. “Ada kesedihan seorang ibu yang ditinggal anaknya. Kesedihan Ken Zuraida sebagai (salah seorang istri) yang ditinggalkan suaminya. Kesedihan seorang yang ditinggalkan sang kekasih,” papar Hamidah.
Acara Mengenang Rendra masih ada dua putaran lagi. Kalau saja pada malam pertama disaksikan banyak pejabat, para anggota dewan, praktisi hukum, konglomerat, tokoh agama dan pendidik se Kota Tegal khususnya, tentu petikan sajak Sajak Orang Kepanasan yang dibacakan Kepala Bagian Humas dan Protokoler Sekda Kota Tegal, Drs Khaerul Huda MSi, lalu dibaca ulang oleh Eko Tunas, boleh jadi akan menggugah permenungan. Bahkan dapat dijadikan penggedor egoisme dan keangkuhan yang ada.
//…karena kami terlantar di jalan/ dan kamu memiliki semua keteduhan …../ karena kami kebanjiran/ dan kamu berpesta di kapal pesiar …../ maka kami tidak menyukaimu// …karena kami arus kali/ dan kamu batu tanpa hati/ maka air akan mengikis batu//
Jasa Rendra
Ya, dari Rendralah, kita mengenal yang namanya poetry reading atau pembacaan puisi. Sepulang belajar seni drama di Amerika Serikat, pada 1961, masyarakat Indonesia hanya mengenal seni deklamasi. Oleh Rendra pula, baca puisi jadi seni pertunjukan yang memikat. Akhirnya pembacaan puisi dikenal masyarakat secara luas.
Maraknya lomba baca puisi yang sering kita jumpai, mau tidak mau adalah atas jasa besar penyair berjuluk ‘Si Burung Merak’ tersebut. “Bila tak ada dia, tak ada lomba baca puisi di Indonesia. Dia berjasa pula memperkenalkan teater modern. Maka jika tak ada Rendra, tak ada Putu Wijaya, tak ada Arifin C Noor, di Tegal tak ada Yono Daryono (dramawan), tak ada tokoh-tokoh seni teater dan puisi,” ujar seniman Eko Tunas dalam orasinya. Jasa kedua, bahwa Rendra senantiasa melakukan riset dalam setiap menggarap karya maupun penggarapan teater. Sehingga dari teater klasik yang dipelajari akhirnya bisa diadaptasi dengan kesenian tradisional yang ada di Jawa khususnya dan Indonesia umumnya. Sejak itulah orang tetaer tidak lagi merasa gengsi ketika disandingkan dengan seperangkat gamelan dalam sajian panggungnya. Alat mudik seperti gong, sharon bukan menjadi hal yang tabu untuk disertakan menjadi bagian sajian teater secara utuh.
Bagi sebagian besar seniman dan masyarakat Indonesia, Rendra–lebih akrab disapa Mas Willy–adalah tokoh besar yang sangat dihormati. Ia bak magnet atau sihir yang membuat orang berbondong-bondong mendekat padanya, ingin menjadi bagian dari hidupnya. Itulah mengapa, acara mengenang Rendra jadi penting bagi mereka yang merasa kehilangan.
Secara berseloroh, Eko Tunas juga menganggap Rendra menjadi trandsetter dari gaya rambut, postur tubuh bahkan cara berpakaian. “Bayangkan jika Rendra awalnya tidak berambut gondrong, jika tubuhnya pendek, kulitnya hitam dekil, apa jadinya wajah para teaterawan di negeri kita,” ujarnya berseloroh.
Rendra dan Tegal
NAMA Rendra bagi kalangan seniman Kota Tegal tak asing lagi. Pada tahun 1950-an ia pernah bolak-balik ke Tegal melihat kiprah komunitas Ikatan Seniman Muda Tegal pimpinan Woerjanto saat aktor teater Sudjai S menyutradarai dan main dalam satu lakon. Seperti diaktakan, Nurhidayat Poso dalam uraian tentang Benang Merah antara WS Rendra dengan Kota Tegal’. “Konon, katanya, kala itu WS. Rendra mengagumi betul seniman-seniman Tunas terutama kesemsem pada dedengkot teater Sudjai S saat dia main dalam lakon Malam Jahanam karya Motinggo Busye di Gedoeng Tawang Samudra tahun 1960 bersama Parto Tegal.
Dari ketertarikan itu, langsung saja Rendra menawarkan pada mereka untuk bergabung di Bengkel Teater Yogyakarta. Parto Tegal akhirnya suntuk di teater pimpinan Rendra sedang Sudjai S menolak dengan alas an untuk menjaga kelangsung dunia perteateran di Kota Tegal.
Keakraban Rendra dengan para seniman teater di Kota Tegal, menyebakan dia menjuluki Kota Tegal sebagai ‘kota yang tak pernah tidur’, dalam artian Tegal sebagai ‘kota teater’. Hingga beberapa tahun lalu, Rendra kembali menyempatkan diri ke Tegal dalam rangka baca puisi dan melakukan acara diskusi. Termasuk datang di Kabupaten Tegal untuk even pembacaan puisi pada HUT Kemerdekaan, di Pendapa Ki Gede Sebayu Kabupaten Tegal. Tak heran kalau kemudian secara emosional kalangan seniman Tegal serentak menggelar peristiwa budaya begitu mendengar kematian ‘Si Burung Merak’.
Post oleh: Hamidin Krazan

Category: Hamidin Krazan, Kota Tegal, fungsi blog, jurnalistik, pernah ketemu, sastra | Tags: | 7.931 Comments »